
PEKANBARU – Galeri Hang Nadim (GHN) kembali menggelar pameran seni rupa dengan menghadirkan perupa Riau, Yohanes Fitri, melalui pameran tunggal bertajuk Utopia. Pameran ini menampilkan 19 karya seni yang didominasi visual kura-kura sebagai simbol harapan akan masa depan yang ideal, sekaligus refleksi terhadap kondisi lingkungan dan keberlangsungan kehidupan.
Kepala Galeri Hang Nadim, Furqon Elwe, dalam sambutannya pada pembukaan pameran mengatakan, Utopia yang ditawarkan Yohanes Fitri, atau yang akrab disapa Anes, merupakan gagasan estetik yang juga berkaitan dengan impian bersama untuk membangun ekosistem seni yang ideal di Riau.
“GHN juga memiliki utopia atau impian, yaitu terbangunnya ekosistem seni yang ideal di Riau. Sebagai salah satu elemen dalam ekosistem seni, khususnya di ranah mediasi, GHN terus berupaya mewujudkannya dengan konsisten menggelar pameran seni rupa,” ujar Furqon.

KETERANGAN FOTO:
Yohanes Fitri (tengah) berfoto bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Riau Tekad Perbatas Setia Dewa, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau Kristanto Januardi, Sekretaris Dinas Kebudayaan Riau Anton W. Putra, Kepala Galeri Hang Nadim Furqon Elwe, perwakilan Samade Riau Rudi Khairul, serta sejumlah seniman.
Kredit foto: Vheby/Tim Utopia

KETERANGAN FOTO:
Yohanes Fitri menyaksikan penempelan stiker penanda karya terjual oleh pembeli lukisannya.
Kredit foto: Vheby/Tim Utopia
Kurator pameran Saridan, M. Sn., dalam pengantar kuratorialnya malam itu mengatakan “Utopia” ala Fitri Yohanes yang memvisualisasikan kura-kura sebagai objek utama karena mayoritas muncul hampir dalam setiap karyanya, adalah representasi perjalanan lingkungan dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan.
Ia menjelaskan, Utopia merupakan pameran ke-23 yang diselenggarakan GHN sejak 2020, sekaligus pameran tunggal ketiga sejak 2025.
Sementara itu, kurator pameran, Saridan, M.Sn., menjelaskan bahwa kura-kura menjadi objek utama dalam karya-karya Yohanes Fitri karena memiliki makna simbolis yang kuat. Kehadiran satwa tersebut merepresentasikan perjalanan lingkungan dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan.
“Kura-kura dipilih bukan semata-mata karena bentuk visualnya yang khas, tetapi juga karena memiliki makna simbolis yang kuat. Cangkangnya dapat dimaknai sebagai perlindungan, gerakannya yang lambat mencerminkan kesabaran dan ketahanan, sedangkan usia hidupnya yang panjang mengingatkan manusia pada kesinambungan kehidupan lintas generasi,” ungkap Saridan.



Bagi Anes, pameran Utopia merupakan langkah awal dari Utopia Project, sebuah proyek seni jangka panjang yang berupaya mengeksplorasi kekayaan lokal Riau dalam konteks kehidupan masa lalu, kondisi kekinian, dan tantangan masa depan.
“Utopia Project adalah perjalanan panjang saya di ranah seni yang mengeksplorasi kekayaan lokal Riau sejak masa lalu, kondisi kekinian, hingga bagaimana upaya bertahan di masa depan,” ungkap seniman asal Selatpanjang tersebut.
Dalam kesempatan itu, Anes menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung persiapan hingga terselenggaranya pameran tunggal tersebut. Ia secara khusus mengapresiasi dukungan keluarga, Galeri Hang Nadim, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), komunitas Pondok Belantara, serta berbagai pihak lainnya.
Dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan seni budaya juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau, Tekad Perbatas Setia Dewa. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya mendukung pemajuan seni dan budaya, antara lain melalui penyediaan fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku seni.
“Salah satunya dengan menyediakan fasilitas tempat seperti Riau Creative Hub (RCH) maupun kawasan Bandar Serai atau Purna MTQ yang bisa digunakan seniman melalui pola kerja sama,” kata Tekad.
Menurutnya, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Riau juga memberikan dukungan melalui kerja sama pemanfaatan fasilitas serta publikasi berbagai kegiatan seni dan budaya.
“Sekarang hampir setiap hari saya menandatangani kerja sama untuk pemakaian fasilitas di RCH. Dinas Pariwisata juga sering membantu publikasi kegiatan seni budaya melalui saluran publikasi yang kami miliki,” ujarnya.
Pameran Utopia dibuka secara resmi oleh Tekad Perbatas Setia Dewa dengan menyapukan kuas pada kanvas. Pembukaan tersebut turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau Kristanto Januardi, Sekretaris Dinas Kebudayaan Riau Anton W. Putra, perwakilan Samade Riau Rudi Khairul, Kepala Galeri Hang Nadim Furqon Elwe, serta sejumlah seniman, budayawan, komunitas seni, dan masyarakat umum.
Suasana pembukaan semakin semarak dengan penampilan seni teatrikal tunggal oleh Celsi Olivia, seorang atlet pencak silat Riau.
Satu Karya Terjual pada Pembukaan
Pameran Utopia langsung mencatatkan penjualan salah satu karya Yohanes Fitri pada malam pembukaan. Karya berjudul “Perisai TNTN”, yang menampilkan seekor gajah Sumatera, menjadi salah satu dari 19 karya yang dipamerkan. Selain lukisan, pameran ini juga menghadirkan karya berbentuk patung yang dibuat dari plat logam.
Karya lain yang menarik perhatian pengunjung adalah lukisan berukuran besar berjudul “Hijau Tanpa Suara”, dengan dimensi 1,5 x 3 meter. Lukisan tersebut menggambarkan lanskap hutan hijau tanpa kehadiran fauna, kecuali seekor kura-kura yang menggendong boneka gajah, harimau, orang utan, dan badak.
Visual tersebut menghadirkan kritik sekaligus kegelisahan artistik terhadap kondisi satwa endemik dan keberlangsungan habitatnya. Melalui pendekatan visual yang simbolis, Anes mengajak pengunjung merenungkan masa depan lingkungan serta pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Pameran Utopia terbuka untuk umum mulai 22 Oktober hingga 21 November 2026 di Galeri Hang Nadim, kompleks Bandar Serai, kawasan Purna MTQ, Pekanbaru.
Pengunjung dapat menikmati pameran setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 22.00 WIB dengan tiket masuk sebesar Rp20.000 per orang.
